WeCreativez WhatsApp Support
Assalamu\'alaikum wr wb. Tim kami akan menjawab pertanyaan anda. Terimakasih
Ada yang Bisa Kami Bantu?
Kamis , Agustus 13 2020
Home / Artikel / Bagaimana Alquran Dikumpulkan Menjadi Sebuah Mushaf?

Bagaimana Alquran Dikumpulkan Menjadi Sebuah Mushaf?

Al-qur’an yang Masih Berbentuk Lembaran-                      Lembaran (ilustrasi)

Sufaraquran.com Alquran diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad. Wahyu tersebut disampaikan melalui Jibril sebagai perantaranya, dengan berbagai cara. Lalu apakah Alquran diturunkan sudah dalam bentuk mushaf seperti yang bisa kita lihat saat ini? Mushaf Alquran yang biasa kita lihat ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku. Proses penyusunan dari ayat demi ayat hingga terkumpul tiga puluh juz tersebut melalui proses panjang yang menarik dan penuh hikmah.

Periode Rasulullah SAW

Proses pengumpulan ayat demi ayat dalam Alquran pada zaman Rasulullah dimulai dengan proses penghafalan (hifzhan). Rasulullah dijuluki Jumma’ul qur’an atau Huffadzuhu (penghafal al-Quran). Beliau terus menerus menggerakkan bibirnya untuk melafalkan Alquran. Hal itu menjadikan para sahabat lebih mudah menghafal ayat demi ayatnya.

Dalam sejarah tercatat beberapa sahabat yang hafal Alquran pada masa Rasulullah, antara lain : Abdullah Ibnu Mas’ud, Salim Ibnu Ma’qil Maula Abi Hudzaifah, Muadz Ibnu Jabal, Ubay Ibn Ka’ab, Zaid Ibn Tsabit, Abu Zaid Ibn Sakan, Abu al-Darda’.[3]

Keterangan: Sketsa Zaid bin Tsabit

Setelah dihafalkan, ayat Alquran dikumpulkan dan kemudian mulai ditulis ayat perayatnya. Keotentikannya  selalu dijaga termasuk dengan memilih orang-orang pilihan sebagai juru tulis wahyu atau yang dikenal dengan istilah Al-Kutab.Mereka adalah Mu’awiyah, Zaid Ibnu Tsabit, Ubay Ibnu Ka’ab, Abdullah Ibnu Mas’ud. Penulisannya relatif sederhana, batu, tulang, kulit binatang, dan pelepah kurma menjadi media penulisan wahyu tersebut.

Periode Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, tepatnya tahun 12 H, terjadi sebuah pemberontakan dari kaum pembangkang zakat dan pemurtadan yang dipimpin Musailamah Al-Kadzzab. Beliau mengutus Khalid Ibnul Walid untuk mengatasi mereka ke Yamamah. Peristiwa tersebut membuat banyak kaum muslimin syahid. Bahkan tercatat 70 Huffadz (penghafal Al-Quran)  syahid dalam peristiwa tersebut.

Hal tersebutlah yang mendorong Umar bin Khatthab untuk menyarankan khalifah, agar segera mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Abu Bakar menyutujui dan memanggil Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan rencana tersebut.

Zaid dianggap yang paling mampu menanggung amanat tersebut dengan kemampuan hafalannya yang sempurna. Meski awalnya menolak, Zaid akhirnya melaksankannya dengan sangat hati-hati.

Mushaf yang disusun oleh Zaid kemudian disimpan oleh Abubakar, lalu berpindah ke tangan Umar Ibn Al-Khatthab, dan terakhir kepada Hafshah Binti Umar (Ummul Mikminin)

Periode Khalifah Utsman RA

Pada periode ini datang sebuah saran dari Hudzaifah Al-Yaman kepada Amirul Mukminin untuk menyatukan perbedaan bacaan di antara kaum muslimin. Karena pada masa itu, terdapat beberapa versi bacaan termasuk dialeg yang akhirnya memengaruhi arti dari kalamullah itu. Diceritakan bahwa pada saat itu mulai muncul fitnah dikarenakan hanya perbedaan bacaan tersebut. Sayyidina Utsman pun mengamini saran tersebut, dan mengutus seseorang untuk meminta mushaf Alquran yang berada pada Sayyidatina Hafshah, guna dijadikan sebagai sumber rujukan penyalinan.

Sayyidina Utsman kemudian membentuk kelompok khusus untuk menyelesaikan misi tersebut. Setelah selesai disalin, mereka menyebarkan salinan – salinan tersebut untuk disebar luaskan ke beberapa Negara, antara lain Kufah, Bashrah, Syam dan yang beliau pegang sendiri. Utsman juga memerintahkan semua mushaf selain yang beliau sebarkan untuk dibakar karena memang pada saat itu ada beberapa mushaf yang terkenal yaitu mushaf Ibnu Ka’b dan Ibnu Mas’ud.

Rasmul Utsmani

Foto: Mushaf Utsmani (Ilustrasi)

Sebutan tulisan/mushaf utsmani kemudian dinisbatkan kepada Utsman bin Affan sebagai khalifah ke-tiga yang telah berhasil perampungkan proyek kodifikasi (pembukuan) Alquran pada tahun 25 H. Para ulama kemudian mengistilahkan tulisan Alquran tersebut dengan “Rasmul Utsmani”.

Para Ulama berbeda pendapat tentang penulisan ini, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tulisan tersebut bersifat taufiqi (ketetapan langsung dari Rasulullah), sebagian yang lain mengatakan bahwa, Rasmul Ustmani hanyalah tata cara penulisan biasa. Landasan pemikiran tersebut tentu berdasarkan tulisan ataupun perkataan para sahabat.

Alquran sebai wahyu telah terjamin keotentikannya oleh Allah. Ia lah yang menurunkan dan menjaganya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hijr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Allah-lah yang menggerakkan hati dan pemikiran hamba-hambanya pada masa Rasulullah sampai Ustman  untuk menjaga Alquran dengan cara pemushafan seperti yang kita kenal saat ini. Dari sinilah mulai muncul ijtihad lain untuk membagi Alquran ke dalam juz, Hizb, ‘ain, dan lain-lain.Wa’llahu a’lam bish shawaab. (history/sufaraalquran)

 

 

 

 

 

About adminSQ

Check Also

Ramadhan Qurani - pelatihan Quran anak dan dewasa 1 - www.sufaraquran.com

‘Ramadhan Qurani’ Fasilitas Sempurnakan Berkah Ramadhan Tahun Ini

Sufara Al-Quran hadir kembali dengan program-program Ramadhan unggulan. Setidaknya terdapat empat jenis pelatihan yang dihadirkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.